LOBBY RIWAYATMU KINI


HEBATNYA SEBUAH LOBBY

Oleh : Solikhin

Di sebuah kabupaten ”X”, para pejabatnya memiliki kemampuan khusus yang sangat hebat. Para pejabat ini mampu mewujudkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, sesuatu yang naif menjadi nyata. Kemampuan khusus ini bernama LOBY. Bayangkan saja, pertama, perpendataan tenaga honorer untuk dapat masuk ke dalam database yang begitu kontraversi dengan berbagai ragam kecurangan, manipulasi, dan intrik kepentingan, mampu dihandle dengan baik. Artinya hal-hal yang berbau kecurangan itu bisa ditepis dan akhirnya keluarga, kroni dan saudara para pejabat ini dapat lolos dalam database untuk diangkat menjadi tenaga honorer, meskipun tidak memenuhi ketentuan yang ada seperti : tidak memiliki ijazah yang relevan, masa kerja fiktif, tidak diangkat oleh pejabat setingkat Bupati/Kepala Dinas dan tidak dibiayai (lebih tepatnya:digaji) oleh APBN/APBD. Kedua, gejolak demontrasi menuntut agar membersihkan anasir-anasir buruk dari kecurangan pendataan tenaga honorer pun dapat dihentikan dengan sandiwara yang cantik. Para pendemo sudah meluapkan emosi dan pikirannya berapi-api baik secara langsung maupun tidak langsung seperti melalui lembaga perwakilan (DPRD), semua berakhir sia-sia manakala PEMDA dan DPRD berpelukan erat untuk tidak mengurusi para pendemo ini. Alasannya sangat nyata dan jelas, karena sekali lagi banyak keluarga, kroni, dan saudara mereka yang masuk ke dalam database dan itu harus dipertahankan untuk bisa diangkat menjadi PNS. Ketiga, meskipun tersandung dengan banyaknya kasus manipulasi database sampai BKN regional Yogyakarta mengadakan inspeksi ke daerah toh akhirnya SK CPNS bagi mereka yang bemasalah dapat dikeluarkan juga. Inspeksi dan sejenisnya seperti hanya sebuah sandiwara karena sebelum ada inspeksi banyak tenaga honorer yang tidak memenuhi ketentuan hukum sudah pada mendapat SK CPNS. Ini menjadi buah simalakama, karena jika yang bermasalah sesudah inspeksi tidak menerima SK CPNS, maka logikanya yang bermasalah sebelum adanya inspeksi SK CPNSnya juga harus dicabut kembali. Hal ini sangat menimbulkan kerawanan stabilitas pemerintahan, terutama para pejabat pembuat keputusan ini dapat di-PTUN-kan. Padahal kita tahu di kabupaten lain (yang dekat dengan kita) yang bermasalah seperti yang dialami kabupaten ”X” tidak bisa mendapat SK CPNS bahkan tidak bisa masuk ke dalam database, tetapi di kabupaten ”X” hal ini menjadi bisa. Hebatkan? Keempat, pelaksanaan diklat prajabatan yang bisa mandiri meskipun dengan kondisi yang tidak representatif. Adalah hal yang aneh ketika kita dipertemukan dengan tempat diklat prajabatan yang tidak reprsentatif, sarana prasarana yang tidak memadai, kualitas widyaiswara daerah yang sedang-sedang saja, penyelenggaraan yang apa adanya dan masih banyak lagi permasalahan-permasalahan yang muncul dalam pelaksanaannya. Tetapi semua ini tidak menjadi faktor penghambat untuk tetap terlaksananya Diklat Prajabtan mandiri. Hebatnya LOBBY Apa sebenarnya yang menyebabkan keempat masalah tersebut diatas dapat melenggang mulus? Jawabannya adalah karena hebatnya sebuah LOBBY. Apapun permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan LOBBY-LOBBY. Prinsip yang dipakai adalah tidak ada yang tidak bisa diselesaikan dengan LOBBY. Pada kasus kabupaten ”X” ini, kita jangan heran karena memang ada tim-tim khusus yang memiliki kemampuan LOBBY yang sangat licin dan luar biasa baik di tingkat lokal maupun regional bahkan nasional. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah ternyata banyak putra-putra daerah yang sudah menduduki jabatan penting di tingkat regional maupun nasional dan juga mantan para pejabat yang pernah bekerja di kabupaten ”X” yang sekarang menjadi pejabat tinggi. Mereka bahu-membahu untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi kabupaten ”X” agar terhindar dari lubang permasalahan yang lebih dalam. Permasalahan adalah apakah perbuatan ini baik? Jawabannya pasti bagi para pelakunya ini adalah perbuatan yang terbaik dan prestasi yang luar biasa. Tetapi bagi masyarakat yang kritis, ini dapat dikategorikan sebagai perbuatan KOLUSI dan NEPOTISME, bahkan bisa juga dimasukkan ke dalam wilayah KORUPSI manakala ada uang negara yang digunakan untuk memperlancar proses LOBBY. Yang disebut terakhir ini, sangat mungkin terjadi. Untuk melakukan sebuah LOBBY pasti dibutuhkan dana, minimal bagi aktor pelakunya, dari biaya akomodasi sampai biaya transportasi. Tidak hanya berhenti sampai disini, para pejabat yang membantu proses penyelesaian masalah juga pasti mendapat ”fee” baik yang diserahkan sebelum pekerjaan dilakukan atau dijanjikan sesudahnya. Lalu uang siapa yang dipakai untuk melaksanakan LOBBY ini? Jawabanya pasti UANG NEGARA, maka dapat dikategorikan sebgai tindak KORUPSI. Memang sangat tidak mudah mengungkap kasus ini, karena rata-rata mereka licin, dan terbiasa memanipulasi anggaran. Korelasi LOBY dengan KEPENTINGAN Contoh kasus di atas menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara LOBBY dengan KEPENTINGAN. Loby selalu menghantarkan kepentingan-kepentingan, baik itu kepentingan yang baik atau pun kepentingan yang buruk. Kepentingan baik, ketika LOBBY diperuntukan hal-hal yang membawa kemasalahatan umat, bangsa dan negara. Kepentingan buruk, ketika LOBBY hanya untuk kepentingan sesaat, pemuas nafsu, dan hanya untuk kepentingan golongan minoritas saja. Kita angkat contoh sebuah tender proyek. Untuk mendapat sebuah proyek yang bernilai 500 juta, maka para pemilik CV harus mengeluarkan dana 10% – 20% untuk kepentingan loby. Ini hal yang lumrah, belum lagi jika pemilik CV ini memenangkan tender, maka uang yang diterima sudah disunat alias tidak penuh lagi, ditambah lagi cairnya diskenario secara bertahap. Siapa yang diuntungkan? Jelas para pejabat-pejabat yang terkait di dalamnya, baik pada level atas maupun level bawah. Mereka semua berebut uuang negara. Maka jangan disalahkan, jika pemilik CV yang bandel akan mengerjakan proyek ini dengan asal-asalan. Jelas disini bahwa tujuan sebuah loby adalah melegalkan sebuah kepentingan. Tetapi kebanyakan adalah untuk melegalkan kepentingan penguasa/pejabat atau golongan minoritasnya. Kalau sudah begini, maka kepentingan masyarakat pada umumnya menjadi terabaikan. Prinsip yang dipakai adalah ”adigang, adigung, adiguna”. Orang-orang yang lemah selalu dipandang sebelah mata dan tidak diperhitungkan, walaupun suatu saat bisa berubah menjadi ”people power”. Apalagi di era otonomi sepert sekarang ini, raja-raja kecil cenderung bersikap arogan. Keputusannya adalah fatwa sang raja. Siapa saja yang melawan pasti disikat, siapa yang bersahabat dan mengunggulkan dirinya pasti mendapat jabatan-jabatan penting. Maka orang berlomba-lomba untuk mendekatkan diri pada ”sang raja kecil”, meskipun pada saat PILKADA mereka tidak mendukungnya. Pejabat-pejabat seperti ini biasanya pandai berimprovisasi layaknya ”bunglon”. LOBBY juga tidak bisa dilepaskan dari kepentingan POLITIK. Banyak hal yang telah diselesaikan lewat jalur politik ini, dari yang berskala lokal maupun nasional bahkan internasional. Tengok saja kasus lokal seperti pasangan calon bupati dan wakil bupati yang bersikukuh untuk menjadi pasangan dan tidak bisa dipisahkan. Ternyata dikemudian hari terungkap bahwa ada ”hidden factor” yang melatarbelakanginya. Begitu juga ditingkat nasional, pasangan presiden dan wakil presiden yang juga bersikukuh untuk dipasangkan ternyata dikemudian hari terungkap juga ada ”hidden factor”. Orang akan selalu mencibir kasus-kasus ini, meskipun kebenaran dari ”hidden factor” ini masih mengundang pro dan kontra. Meskipun jika diungkap secara indenpendent dan mendalam selalu ada benarnya.

Refleksi diri

Sekaranglah saatnya kita merefleksi diri. Ada banyak kebusukan-kebusukan di sekitar kita. Apakah kita akan berdiam diri, larut di dalamnya, atau kita akan melawannya? Semua jawabannya ada pikiran kita masing-masing. Tetapi jika kita ingin merubah keadaan menjadi lebih baik, maka jawaban yang kita harus pilih adalah dengan melawannya. Kita telah dididik minimal 3 (tiga) hal yaitu filosofi, sejarah dan drama. Filosofi telah mengajarkan kepada kita hal-hal yang mendalam sampai pada hakekatnya yaitu kebenaran yang tak terbantahkan. Jika kita hubungkan dengan agama, maka kebenaran yang hakiki adalah milik TUHAN YME. Jadi seyogya amal perbuatan kita dimanifestasikan sesuai ajaran-ajaran Tuhan. Sejarah juga telah mengajarkan kita bahwa kebenaran dan kesalahan harus ditulis dengan apa adanya-obyektif. Sejarah harus lepas dari berbagai kepentingan penguasa atau kepentingan si-penulis, tidak memihak-independen. Jadi perbuatan kita bukan untuk memanipulasi sejarah apapun, jika perlu kita luruskan sejarah-sejarah yang menyimpang. Dan yang terakhir adalah drama. Generasi kita belum banyak memainkan drama ini, karena kebanyakan dari kita masih menjadi pegawai level bawah, belum memainkan peran apapun. Tetapi 5 (lima) tahun mendatang kita pasti sudah dapat menduduki jabatan-jabatan penting. Inilah saatnya kita memainkan drama, mau jadi pemimpin yang bagaimana? Semoga kelak kita menjadi calon pemimpin yang amanah, yang mampu menghapus anasir-anasir buruk yang melekat pada kabupaten kita. Menurut hemat saya, generasi kitalah yang harus melakukan perubahan itu, jika kita menghendaki kabupaten kita menjadi lebih terhormat dan bermartabat. Jika pada zaman berperang dulu, kita arogan, buas, ganas bahkan kejam terhadap musuh-musuh (penjajah) kita. Sekarang kita merdeka sudah tidak sepatutnya sifat-sifat semacam ini masih kita pakai. Sudah saatnya paradigma ini kita ubah, seperti : arogan menjadi toleran, buas menjadi melindungi, ganas menjadi santun, dan kejam menjadi penyayang serta sifat-sifat lain yang harus kita ubah. Sekali lagi kita sudah hidup di alam merdeka, jika anda masih berperilaku seperti zaman penjajahan dulu, maka ANDAlah sang penjajah itu, yang harus kita perangi….!!

1 Komentar

Filed under pendidikan, politik, sosial

One response to “LOBBY RIWAYATMU KINI

  1. Kunjungan sesama blogger sob…
    Blognya menarik nih…

    Ditunggu kunjungan baliknya ya…
    Dan jangan lupa komennya…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s