UNTUK PENGAWAS SEKOLAH


APA KABAR PENGAWAS SEKOLAH?

oleh : Solikhin

Kebanyakan sekolah merasa tidak senang ketika di datangi Pengawas Sekolah. Dua predikat yang selalu melekatkan pada diri seorang pengawas sekolah ketika datang ke sekolah-sekolah yaitu : (1) suka mencari-cari kesalahan, dan (2) suka mencari ”amplop”. Jadi, kehadiran seorang pengawas sekolah bukan lagi sebagai ”sumber solusi” tetapi malah menjadi ”sumber masalah”.

Bagaimana cara mengubah paradigma ini?

Pertama, dari tubuh pengawas sekolah sendiri. Kesalahan yang paling mendasar adalah paradigma pelayanan yang diberikan oleh para pengawas sekolah. Kebanyakan pengawas sekolah masih menggunakan paradigma lama yaitu ”pelayanan klasik”. Artinya pelayanan yang diberikan masih bersifat sentralistik dan cenderung otoriter. Kegiatan seorang pengawas tidak lebih sebagai pemberi petunjuk, mendikte, dan sebagai evaluator. sehingga pihak sekolah harus bersikap ”sendiko dhawuh”, dan selalu menjadi ”pesakitan”. Padahal paradigma ini sudah tidak sesuai dengan zamannya, dan harus diubah dengan paradigma baru yaitu ”pelayanan klinis”. Disini seorang pengawas sekolah harus bisa ”berdialog dan menemukan solusi” atas permasalahan yang dihadapi kepala sekolah dan guru. Bukan malah membesar-besarkan masalah yang tidak penting. Hal teknis yang dapat dilakukan oleh pengawas sekolah sebagai wujud pelayanan klinis adalah datang ke sekolah dilanjutkan dengan ”open service-pelayanan terbuka”(seperti layaknya dokter). Siapa pun boleh berbicara untuk menumpahkan segala permasalah yang berkaitan dengan profesinya sebagai guru atau kepala sekolah, kemudian mengajak berdialog/berdiskusi untuk memecahkan permasalahannya secara bersama-sama (seperti layaknya psikolog/konselor). Untuk dapat melakukan pelayanan klinis,  maka pengawas sekolah harus dibekali kemampuan pedagogik, dikdakti-metodik, psikologi, dan konseling. Sehingga kehadirannya di sekolah-sekolah benar-benar dibutuhkan. Pertanyaannya adalah apakah para pengawas sekolah sudah memiliki kemampuan tadi? Hal ini biar menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi institusi atau atasan langsungnya yaitu Kepala Dinas Pendidikan kabupaten/kota.

Kedua, Kepala sekolah harus menghentikan budaya ”mengamplopi”. Catatan yang penting dalam hal ini adalah jabatan pengawas sekolah kebanyakan diduduki oleh para mantan kepala sekolah. Para mantan kepala sekolah ini ketika menjabat sebagai kepala sekolah sering memberikan ”amplop” kepada para pengawas yang datang ke sekolahnya. Sehingga secara langsung atau tidak langsung, ketika menjabat sebagai pengawas sekolah juga ingin mendapat ”amplop”. Oleh karena itu, kepala sekolah yang menjabat sekarang memiliki momentum yang strategis untuk berani tidak memberi ”amplop” kepada pengawas yang datang. Itu dilakukan jika ingin siklus ini cepat berakhir. Dan hal yang penting lainnya yang harus dicamkan bahwa para pengawas sekolah bukanlah orang miskin yang perlu dikasihani, karena setiap observasi dan supervisi pasti sudah dibekali SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) yang sudah pasti dapat ditukarkan dengan uang transportasi perjalanan dinas.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Solikhin, S.Pd. Guru SMP 1 Doro kabupaten Pekalongan

1 Komentar

Filed under pendidikan, sosial

One response to “UNTUK PENGAWAS SEKOLAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s