UJIAN NASIONAL VERSUS KARAKTER BANGSA


UJIAN NASIONAL VERSUS MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

Oleh : Solikhin

PERSIAPAN UJIAN

BELAJAR YOOK

Genderang ujian nasional bagi sekolah/madrasah mulai ditabuh. Sekolah/madrasah mulai mempersiapkan diri demi tercapainya sebuah goal yaitu lulus ujian nasional. Dari pihak sekolah/madrasah memberikan jam tambahan bagi para siswa. Disini guru mata pelajaran ujian nasional (UN) bekerja ekstrakeras memberikan ”tip dan trik” bagaimana menjawab soal-soal ujian secara smart. Bagi siswa yang berasal dari keluarga ”cukup berada” masih ditambah lagi dengan mengikuti program bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga bimbingan belajar. Yang eronis adalah guru mata pelajaran UN ini juga menyelenggarakan bimbingan belajar, baik dia bekerja pada lembaga bimbingan belajar atau menyelenggarakan sendiri. Sudah bisa dibayangkan, ketika guru yang bersangkutan memberi pembelajaran di sekolah/madrasah pasti pembelajarannya cenderung seenaknya, tidak detail , dan tidak memberikan ”tip dan trik” bagaimana menjawab soal-soal ujian secara ”smart”, karena yang saya sebut terakhir ini hanya dijual pada lembaga-lembaga bimbingan belajar. Yang tidak kalah pentingnya peranannya orang tua siswa, mereka selalu menekankan dan memantau anaknya untuk belajar lebih giat lagi, jika perlu dipenuhi segala kebutuhan anak dari buku-buku pelajaran, sarana prasarana (misal:internet) sampai dimasukkan ke lembaga bimbingan belajar. Dan yang tidak mau ”kebakaran jenggot” adalah para Kepala Sekolah, Pengawas dan Kepala Dinas Pendidikan Kab/kota serta Mapenda (Depag), selalu memberikan arahan agar sekolah/madrasah kab/kota meningkatkan nilai Ujian nasional lebih baik dari tahun yang kemarin agar ranking nilai ujian nasional kab/kota yang bersangkutan semakin meningkat atau tidak ketinggalan dari daerah lainnya. Itulah gambaran clasic yang dihadapi dunia pendidikan kita menjelang ujian nasional (UN).

Bagaimana ketika pelaksanaan ujian nasional (UN) dilaksanakan? Skenario besar telah disusun oleh ”Tim Sukses” ujian nasional, dari desain tempat duduk siswa sampai strategi ”serangan fajar”. Desain tempat duduk biasanya pada tiap ruangan diatur tempat duduknya agar siswa yang pandai dapat membantu temannya yang kurang pandai. Biasanya tiap ruang berisi 4-5 siswa pandai. Posisi duduk mereka diatur sedemikain rupa agar siswa yang pandai ini mudah menularkan jawabannya kepada siswa yang kurang pandai. Teknik dan strategi ”serangan fajar” juga tidak kalah ngerinya. Dari tim sukses terjun langsung sampai tersamarkan. Misalnya : memberikan/menempelkan kunci jawaban di kamar mandi/WC, menyusupkan kunci jawaban pada soal, memberikan jawaban melalui HP dan lain-lain yang teknik dan strategi yang sudah ditulis penulis-penulis sebelumnya. Yang lebih radikal dan kasar adalah teknik mengambil soal ujian pagi-pagi benar dari sekretariat ujian nasional, kemudian tim sukses sekolah/madrasah membuka soal (dengan hati-hati agar sampulnya tidak rusak) dan mengerjakannya. Soal yang dikerjakan biasanya paling banyak 50% dari jumlah soal yang ada, sisanya dikerjakan siswa sendiri. Hasil pekerjaan tim sukses kemudian digandakan secukupnya  dan diberikan kepada siswa. Jadi ketika siswa masuk ruang ujian sudah mengantongi kunci jawaban. Ada satu lagi yang lebih ngeri adalah mengganti jawaban siswa yang terdapat dalam LJK.  Hal ini biasanya dilakukan hanya kepada siswa-siswa yang rawan untuk tidak lulus. Pihak sekolah  biasanya telah memprediksi siswa-siswa mana yang kemungkinan besar tidak dapat lulus. Tekniknya : tim sukses membuka sampul LJK dan mencari nama-nama yang rawan tidak lulus, kemudian mengganti jawaban yang salah. Tim sukses biasanya telah memiliki pos-pos yang aman sebagai sarang untuk menggati jawaban siswa. Alhasil, sekolah/madrasah yang melakukan kecurangan dan ketidakjujuran dapat lulus 100%, sedangkan sekolah/madrasah yang jujur tidak dapat lulus 100%.

Tidak kalah ngerinya adalah siswa digiring baik oleh sekolah/madrasah maupun orang tua untuk berfikir tidak ilmiah dengan jalan siswa diajak meminta suatu pertolongan bukan dengan Tuhan tetapi kekuatan lain, seperti perdukunan. Hal ini semakin menambah keterpurukan dunia pendidikan kita, betapa tidak selama 9 tahun (SMP) dan 12 tahun (SMA) siswa diajari untuk berfikir ilmiah, relaistis dan logis tetapi pada ending-nya, siswa diajak untuk bersikap tidak ilmiah. Sekolah/madrasah sebagai lembaga ilmiah telah gagal membawa visi dan misi pendidikan.

Sebenarnya untuk melacak kecurangan ini dari segi teknologi sangat mudah. Yang ”keren” barangkali dengan pemasangan CCTV pada sekolah/madrasah tertentu, tapi ini biayanya sangat mahal. Yang paling praktis adalah menganalisis butir jawaban siswa. Pada sekolah/madrasah yang curang pasti jawaban yang benar atau jawaban yang salah cenderung pada nomor soal yang homogen. Misalnya : soal nomor 1 kunci jawabannya ”B”, tetapi jawaban siswa C (salah). Biasanya pada sekolah/madrasah yang melakukan kecurangan jawaban salahnya ini relatif homogen, dan ini tidak hanya terjadi pada satu nomor saja tetapi banyak nomor.

Kondisi di atas memang tidak selalu berbanding linier bagi sekolah/madrasah yang memiliki standar baku dalam pembelajarannya. Ada memang sekolah-sekolah yang benar-benar jujur dan murni dalam melaksanakan ujian nasional, dengan melakukan sistem pembelajaran yang berkualitas, disiplin yang ketat, guru yang berkualitas, sarana dan prasarana yang mendukung dan siswa yang rata-rata memiliki intellegensi tinggi. Tapi sekolah/madarasah yang begini jumlahnya masih minor. Sebagian besar sekolah/madrasah masih banyak yang berlaku curang, baik dengan tingkat kecurangan yang rendah sampai yang tinggi.

Lalu mau dibawa kemana karakter bangsa ini, jika sistem ujian nasional yang dijadikan tolok ukur kemajuan pendidikan di Indonesia, pelaksanaannya banyak diwarnai banyak kecurangan?

Mari kita telaah bersama, misalnya ditinjau dari ”dimensi guru”. Berapa banyak sekarang guru yang mendidik siswanya untuk sukses ujian nasional tanpa pamrih? Jawabannya ”sangat sedikit”. Rata-rata guru baru mau menggenjot siswanya untuk sukses ujian nasional manakala guru itu dibayar. Semakin besar bayaran yang akan diterima, maka semakin energik dan bersemangatlah guru dalam membimbing siswanya, tetapi manakala bayaran yang diberikan ini sedikit, maka guru akan bekerja dengan setengah hati dan sekedar menggugurkan kewajiban. Belum lagi ditambah jika siswanya rata-rata memiliki intellegensi rendahdan sulit diatur/nakal, maka kecenderungan bagi guru untuk membimbing setengah hati semakin tinggi. Pembelajaran karakter apa yang didapatkan siswa? Siswa akan mendapatkan pembelajaran karakter: ”mau bekerja jika bayarannya tinggi, bekerja seenaknya dan akan membantu seseorang yang lemah dengan setengah hati”. Bukan lagi pembentukan karakter yang positif yaitu: ”bekerja dengan orientasi produktivitas yang tinggi dan membantu orang yang lemah dengan sepenuh hati”. Inilah penggalan contoh runtutan pembentuk karakter siswa dari tinjauan pelaksanaan ujian nasional dari dimensi guru. Karakter negatif lain yang terbentuk misalnya: ”siswa belajar tidak jujur, curang, bukan pekerja keras, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan bahkan sampai bersikap tidak ilmiah”.

Jika kondisi semacam ini dibiarkan berlarut, bukan tidak mungkin karakter bangsa kita akan semakin terpuruk. Yang lahir kurun waktu 5 – 10 tahun yang akan datang sebagai pemimpin negara atau masyarakat adalah generasi yang berkarakter negatif atau setidaknya generasi yang ber-lipstik baik, tetapi sejatinya memendam sifat jelek. Bukan lagi generasi muda yang memiliki mental kepribadian yang kuat, bersemangat, ulet, pantang menyerah, disiplin, inovatif dan bekerja keras, untuk dapat menjadikan bangsanya menjadi bangsa yang memiliki daya saing tinggi, sehingga dapat berada sejajar dengan bangsa bangsa lain.

Saya tidak akan memfokuskan artikel ini pada kontraversi setuju atau tidak setuju dengan adanya ujian nasional (UN), tetapi saya berpendapat jika cara-cara yang dilakukan untuk meluluskan siswa dalam ujian nasional masih diwarnai kecurangan dimana-mana, sebaiknya ujian nasional tidak dijadikan penentu kelulusan siswa. Kembalikan pada paradigma lama bahwa kelulusan siswa ditentukan oleh pihak sekolah. Ujian nasional masih perlu tetap ada untuk memetakan kualitas pendidikan, sekali lagi bukan sebagai penentu kelulusan. Asumsi saya bahwa ujian nasional hanya bisa menggambarkan kualitas siswa pada aspek kognitif saja, sedangkan aspek afektif dan psikomotor diabaikan dan mengetahui secara pasti kedua aspek yang terakhir ini hanyalah pihak sekolah.

Membangun karakter bangsa melalui pendidikan

Pendidikan tetap dianggap sebagai pilar terkuat untuk membangun karakter anak bangsa. Dengan pendidikan yang berkualitas diharapkan menghasilkan lulusan yang berkualitas pula. Tidak hanya kualitas kognitifnya saja tetapi juga kualitas afektif dan psikomotorik. Siswa tidak hanya ”tahu apa” tetapi harus dirubah paradigmanya menjadi siswa ”bisa apa”, sehingga pendidikan benar-benar bermakna bagi dirinya dan orang lain. Jadi pendidikan tidak hanya membuat siswa menjadi cerdas tetapi juga bijak, sehingga dapat menghasilkan anak bangsa yang berkarakter baik. Institusi pendidikan seharusnya dapat membuat anak didik menerapkan apa yang dipelajari, karena sesungguhnya itulah kegunaan dari ilmu pengetahuan. Apakah anak didik di bangsa ini hanya akan menjadi ”manusia robot” yang tidak memiliki rasa toleransi dan apatis pada kehidupan sosialnya? Lalu bagaimana generasi seperti ini dapat mengembalikan jati diri bangsa? Akhirnya anak didik yang dihasilkan dari institusi pendidikan di negara ini tidak banyak yang mampu untuk menerapkan ilmu dan pengetahuan yang mereka dapatkan di tempat pendidikannya, apalagi untuk mengajarkannya pada orang lain. Yang terjadi adalah tidak sesuainya kata dengan perbuatan. Penanaman karakter anak didik dengan mengabaikan aspek afektif dan psikomotorik tidak akan berhasil menghasilkan generasi penerus yang memberikan dampak positif bagi bangsa. Mungkin memang nilai di atas kertas raport dan IPK terlihat bagus dan memuaskan, akan tetapi ketika anak didik tidak mampu menerapkan ilmu yang mereka dapatkan apa gunanya ilmu yang mereka punya? Otoritas pendidikan harus menerapkan aspek-aspek pendidikan yang ditetapkan oleh lembaga pendidikan PBB, UNESCO, yaitu belajar untuk tahu (learn to know), belajar untuk berbuat (learn to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learn to be her/himself), belajar untuk hidup bersama (learn to live together). Ketika semua aspek itu dapat dijalankan maka bangsa ini akan memiliki generasi yang dapat dibanggakan, bagi bangsa maupun bagi seluruh dunia. Pendidikan bukan hanya transfer ilmu tanpa aktualisasi ilmu, akan tetapi pembentukan karakter diri dan bangsa dengan ilmu yang didapat, hingga akhirnya mereka para generasi muda dapat mengembalikan jati diri bangsa dengan ilmu yang mereka punya.

Kita tidak tahu standar apa yang dipakai dalam otoritas pendidikan di negara ini, bagaimana tidak, kurikulum (KTSP) yang kita pakai saja tidak memiliki ”tujuan pendidikan” yang jelas, sehingga tidak heran tujuan membangun karakter bangsa pun diabaikan.

Bergulirnya orde baru dibawah pimpinan Bapak Soeharto sekilas menorehkan benih pembaharuan bangsa indonesia, harapan demokrasi mampu memenuhi aspirasi rakyat, angan-angan menjadi bangsa maju mulai terhampar, namun apa yang terjadi? Justru demokrasi itulah yang memporak-porandakan generasi muda, demo anarkis dimana-mana, tuntutan bersikap memaksa menjamur di penjuru bangsa, pemaksaan kehendak di gemborkan dimana-mana, pengrusakan dan perkelahian dianggap hal biasa, lantas dimanakah jati diri bangsa indonesia yang sebenarnya? anarkikah sebenarnya indonesia, demokratiskah bangsa kita? mandirikah negeri ini di mata dunia? sudahkan jati diri bangsa kita genggam erat di jiwa kita?

Menjadi lebih menyedihkan lagi manakala kita melihat ke dalam dan menemui bahwa mayoritas komponen bangsa kita mengklaim dirinya sebagai bangsa yang religius. Banyak sudah orang mengatakan bahwa nilai-nilai religiusitas yang diyakini menjadi bagian integral Bangsa Indonesia justru diaplikasikan dalam keseharian oleh bangsa maju yang notabene sekuler. Bangsa kita gagal dalam melakukan internalisasi nilai-nilai luhur yang berasal dari Tuhan menjadi perilaku keseharian. Sedangkan bangsa lain memeras otak mereka dan menghasilkan prinsip hidup yang terealisir. Nilai-nilai luhur bangsa kita jelas lebih unggul, karena berasal dari Tuhan; perlu usaha keras dan luar biasa untuk melakukan internalisasi. Tidak perlu malu untuk mengakui bahwa sebagian besar lembaga pendidikan kita, baik pendidikan formal ataupun non-formal, umum ataupun keagamaan, belum berhasil melakukan tugas utamanya: internalisasi nilai luhur menjadi perilaku. Apabila hal ini dibiarkan terus berlarut atau bahkan, bukan mustahil inilah awal dari sirnanya bangsa ini dari muka bumi. Maka mulailah dari diri kita sendiri dan mengajarkannya pada orang lain tentang penerapan nilai-nilai Pancasila, agar kita dapat menjadi bangsa yang memiliki karakter yang kuat dan bermartabat. Akhirnya kita dapat menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang patut dibanggakan di seluruh dunia dan dapat mengembalikan jati diri bangsa.

Belum terlambat dan insya Allah tidak mustahil mengubah nasib Bangsa Indonesia. Jangan menunggu keajaiban datang dari langit. Seluruh komponen bangsa: Pemerintah, Legislatif, Yudikatif, Militer, Penegak Hukum, Swasta, dan Masyarakat harus bertekad kuat memperbaiki karakter bangsa melalui peran masing-masing. Tidak perlu membuat TAP MPR atau UU Karakter Bangsa – pengalaman menunjukkan bahwa banyak peraturan di bumi pertiwi yang hanya berhenti di lembaran negara.Zero defect harus menjadi prinsip utama seluruh komponen bangsa; baik untuk urusan kecil, seperti membuang sampah, hingga pengamanan harta negara.

Implementasi zero defect memerlukan kepemimpinan yang bersih, kuat, tegas, dan berstamina tinggi. Zero defect tidak mustahil untuk dilaksanakan, karena ini masalah pembiasaan. Zero defect bukan berarti mengingkari kodrat manusia yang memang tidak pernah bisa mencapai kesempurnaan; namun hal tersebut menjadi the ultimate goal yang patut digantungkan di dinding kantor-kantor pemerintahan. Sedikit penyimpangan terhadap zero defect yang masih berada dalam toleransi yang terukur bisa ditolerir dengan catatan adanya tekad bulat untuk kembali menuju ke zero defect.

Karena ini masalah pembiasaan, maka kunci terpentingnya ada di bidang pendidikan. Wajah pendidikan kontemporer kita, sebagai sebuah sistem yang tak bisa lepas dari rembesan nilai-nilai setempat, masih terlihat belum cemerlang. Secara umum, pendidikan di Indonesia belum menghasilkan lulusan berkarakter kuat. Tentu saja, masih ada di sana-sini pelaku pendidikan, baik individu ataupun lembaga yang berkarakter. Hanya saja jumlahnya masih minoritas.

Sebagai penutup mari renungkan kembali pertanyaan ini : Jika pelaksanaan Ujian Nasional diwarnai dengan kecurangan dimana-mana, bagaimana bisa membentuk karakter anak bangsa menjadi lebih baik?

Solikhin, guru SMP 1 Doro kab. Pekalongan, mahasiswa pascasarjana Unnes prodi : Kurikulum dan Teknologi Pembelajaran.

12 Komentar

Filed under pendidikan, sosial

12 responses to “UJIAN NASIONAL VERSUS KARAKTER BANGSA

  1. Konon tingkat kejujuran UN kita masih 20%. Saya salut, Anda masih peduli terhadap pendidikan karakter di negeri ini.
    Salam,
    http://www.suparlan.com

  2. Fantastic goods from you, man. I’ve have in mind your stuff prior to and you’re just too wonderful.
    I really like what you’ve acquired here, really like what you are stating and the best way through which you say it. You are making it enjoyable and you continue to take care of to stay it sensible. I can’t wait to read much more from
    you. That is really a terrific site.

  3. I got this web page from my friend who shared with me concerning this web page and now this time I am visiting this web page
    and reading very informative articles or reviews at this time.

  4. Thanks for the good writeup. It in truth used to be a entertainment account it.
    Glance complicated to far delivered agreeable
    from you! However, how can we be in contact?

  5. I just could not depart your site prior to suggesting that I actually loved the standard information a person provide to your visitors?
    Is gonna be back continuously to inspect new posts

  6. I really like your blog.. very nice colors & theme. Did you
    make this website yourself or did you hire someone to
    do it for you? Plz answer back as I’m looking to construct my own blog and would like to find out where u got this from. cheers

    • without meaning to brag. This blog of my own, I built it myself, with the articles of my own. Thank you you want to visit in my blog. Hopefully my articles useful for everyone. regards,

  7. Hi there! This post couldn’t be written any better! Reading this post reminds me of my previous room mate! He always kept talking about this. I will forward this write-up to him. Fairly certain he will have a good read. Many thanks for sharing!

  8. Hello it’s me, I am also visiting this website regularly, this site is really nice and the viewers are truly sharing pleasant thoughts.

  9. Hey very interesting blog!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s