Hidden Curiculum Versus Penilaian Sikap


oleh:

Solikhin, M.Pd.

Hari Sabtu, 15 Nopember 2014 sekolah kami mengadakan In House Training (IHT) dalam rangka implementasi kurikulum 2013. Banyak hal yang kami bahas, salah satunya tentang Penilaian Sikap. Diantara peserta IHT, ada salah satu peserta menyodorkan contoh penilaian sikap yang dibuat oleh salah satu Pengawas Bina kepada saya sebagai narasumber. Ketika saya tanyakan: ”Apakah format dan content komponen penilaian sikap harus begitu, patent seperti itu?”. Peserta menjawab: ”Ya, harus seperti itu, kalau tidak seperti itu, maka akan disalahkan oleh Pengawas Bina!”. Saya hanya bisa tersenyum.

Gambaran di atas membuktikan ternyata pada level Pengawas Bina masih rancu dalam memahami Penilaian Sikap kurikulum 2013. Bahkan berani mematenkan dan menyalahkan Guru jika content penilaian sikapnya berbeda dengan yang dimaui Pengawas Bina. Untuk itulah perlunya saya mengunggah artikel ini sebagai bahan komparasi dan menambah wawasan kita bersama.

Hidden Curiculum

Sebelum ke akar permasalahan, terlebih dahulu kita pahami tentang hidden curiculum. hidden curiculum atau lebih dikenal kurikulum tersembunyi /terselubung secara umum dapat dideskripsikan sebagai ”hasil (sampingan) dari pendidikan dalam latar sekolah atau luar sekolah, khususnya hasil yang dipelajari tetapi tidak secara tersurat dicantumkan sebagai tujuan”. Peserta didik memperoleh hidden curiculum baik langsung pada proses pembelajaran maupun di luar proses pembelajaran yang terjadi di berbagai lingkungan. Artinya, Segala bentuk pendidikan, termasuk aktivitas rekreasional dan sosial tradisional, yang dapat mengajarkan bahan-bahan pelajaran meskipun sebetulnya tidak sengaja karena bukan berhubungan dengan sekolah tetapi dapat membentuk pengalaman belajar dapat disebut sebagai hidden curiculum. Menurut Elizabeth Vallance, fungsi dari kurikulum tersembunyi mencakup “penanaman nilai, sosialisasi politis, pelatihan dalam kepatuhan, pengekalan struktur kelas tradisional, fungsi yang mempunyai karakteristik secara umum seperti kontrol sosial”. Jadi hidden curiculum adalah penanaman nilai-nilai hidup yang dianggap baik oleh masyarakat yang tidak diajarkan langsung dalam proses pembelajaran.

Bagi Guru PPKn, istilah hidden curiculum bukan hal baru karena sejak dulu pembelajaran PPKn selalu menyertakan hidden curiculum ini dalam proses pembelajarannya. Misal, ketika mengajarkan topik ”Proklamasi Kemerdekaan” selalu disertakan hidden curiculum agar peserta didik dapat menghargai jasa para pahlawan, menghormati perbedaan, semangat cinta tanah air, rela berkorban, kerja sama , persatuan dan sebagainya.

Jika dalam kurikulum sebelumnya penilaian sikap tidak dimunculkan secara nyata atau masih tersembunyi seperti paparan di atas, maka dalam Kurikulum 2013 ini penilaian sikap dimunculkan secara nyata. Penilaiannya bisa dilakukan oleh guru, peserta didik, dan antar peserta didik.

Penilaian Sikap

Sejatinya penilaian sikap dalam kurikulum 2013 mengarah pada dua ranah seperti tertuang dalam Kompetensi Inti (KI), yaitu sikap piritual dan sikap sosial. Kedua ranah ini harus dimanifestasikan dalam penilaian terhadap peserta didik, dan dituangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru.

Perlu kita dipahami, komponen penilaian sikap harus disesuaikan 3 (tiga) komponen:

  1. Lingkungan sekitar (masyarakat)

Sekolah yang lingkungan sekitarnya berdekatan dengan ”prostitusi”, maka penekanan (accentuation) penilaian sikapnya akan berbeda dengan sekolah yang di pinggir sawah. Penilaian sikap pada sekolah yang dekat dengan ”protitusi” lebih menitikberatkan pada sikap spiritual dalam mengantisipasi degradasi moral.

  1. Lingkungan sekolah

Sekolah dengan background keagamaan yang kuat (misal SDIT) akan berbeda penekanan (accentuation) penilaian sikapnya, dibanding sekolah-sekolah umum. Pada sekolah berbasis agama, sikap spiritual bisa saja sudah menjadi ”pembiasaan”, sehingga justru sikap sosial yang perlu ditekankan, misal: disiplin dan tanggung jawab. Beda lagi dengan sekolah yang berbasis kedisiplinan tinggi (semi militer), maka kedisiplinan sudah menjadi pembiasaan, justru sikap spiritualnya yang perlu ditekankan.

  1. Mata pelajaran

Tiap-tiap mata pelajaran memiliki karakteristik yang berbeda-beda, maka accentuation penilaian sikapnya juga berbeda. Jika mata pelajaran PPKn lebih menekankan sikap nasionalisme kebangsaan, maka akan berbeda dengan mata pelajaran IPA yang menekankan sikap ilmiah. Belum lagi juga harus disesuaikan dengan topik/subtopik yang kita ajarkan. Artinya, pemilihan komponen penilaian sikap harus sesuai dengan topik pembelajaran waktu itu, dan tiap topik harus berbeda accentuation penilaian aspek sikapnya. Justru accentuation pada mata pelajaran ini yang akan bersentuhan langsung dengan peserta didik setelah penilaian sikap bukan lagi menjadi hidden curikulum.

Kesimpulan yang dapat kita tarik adalah: (1) Pelaksanaan penilaian sikap harus disesuikan dengan tingkat kebutuhan lingkungan sekitar, sekolah, dan mata pelajaran (termasuk topik/subtopik), maka tidak bisa digeneralisasi begitu saja. Tidak bisa digeneralisasikan kalau tiap sekolah komponen penilaian sikapnya harus sama, misal harus aspek: kesopanan, tanggung-jawab, kedisiplinan, . (2) Aspek yang dinilai pada penilaian sikap dapat diubah sesuai kebutuhan (jangan tergantung pada Buku Guru, Pengawas Bina, atau lainnya), bisa ditambah atau dikurangi tergantung penekanannya (accentuation) pada aspek apa terutama harus disesuaikan topik/subtopik yang kita sampaikan. Guru mata pelajaranlah yang lebih memahami ini.

Semoga memberi pencerahan dan bermanfaat.

Tinggalkan komentar

Filed under pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s